Sampah sampai saat ini masih menjadi momok permasalahan di seluruh negara, termasuk di Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jumlah sampah di Indonesia pada tahun 2020 mencapai 67,8 juta ton. Angka yang tinggi ini menandakan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap lingkungannya sendiri. Masalah sampah bukanlah permasalahan yang dapat diselesaikan dengan mudah dan dihilangkan secara keseluruhan. Hal ini dikarenakan setiap harinya individu pasti menghasilkan sampah tanpa berpikir mengolahnya. Di antara berbagai jenis sampah yang ada, sampah dari industri busana atau limbah fashion menyumbang jumlah yang tidak sedikit. Fast fashion dan budaya masyarakat yang konsumtif merupakan faktor utama penyebab sampah jenis ini terus meningkat jumlahya. Seperti di daerah saya, Kota Depok, limbah fashion banyak dijumpai dan kurang dikelola dengan baik. Namun, terdapat beberapa cara sederhana yang dapat kita lakukan untuk menekan jumlah limbah fashion seperti menjual pakaian bekas, daur ulang pakaian, dan menyumbangkannya ke masyarakat yang membutuhkan.
![]() |
| Ella Richmond / travelgogirl.com |
Dewasa
ini, menjual pakaian bekas atau yang lebih dikenal dengan nama thrift shop
tengah menjadi tren. Awalnya, thrift shop ini bertujuan agar masyarakat
kalangan bawah dapat membeli pakaian yang layak dengan harga murah. Tetapi, pakaian
bekas yang bergaya vintage kini tengah digandrungi oleh para remaja karena dianggap
memiliki nilai estetika yang tinggi. Tren ini sebenarnya berdampak positif
karena membantu mengatasi permasalahan sampah. Pakaian bekas yang sudah tidak
digunakan dapat dijual kembali asalkan masih layak pakai dan memiliki nilai
jual. Seperti simbiosis mutualisme, cara ini menguntungkan kedua belah pihak
baik penjual maupun pembeli. Dibandingkan membuangnya, penjual bisa mendapatkan
penghasilan dari pakaian yang sudah tidak ia pakai dan pembeli dapat memperoleh
pakaian dengan harga yang miring. Di Indonesia sendiri, terdapat platform
bernama Tinkerlust yang menjual produk fashion preloved terkurasi.
Selain
dengan menjualnya, masyarakat juga bisa mendaur ulang pakaian bekas menjadi
suatu produk yang baru. Pakaian tersebut dapat dibuat menjadi kain perca yang
selanjutnya dapat dijadikan sarung bantal, keset atau kerajinan tekstil
lainnya. Memilah pakaian bekas yang masih layak pakai dan menyumbangkannya
kepada masyarakat yang membutuhkan juga menjadi salah satu cara alternatif. Panti
asuhan, layanan sosial, dan pengungsian korban bencana alam umumnya memiliki
pendanaan yang kurang untuk pakaian dan makanan. Melalui cara ini, masyarakat
tidak hanya mengatasi permasalahan sampah, tetapi juga menumbuhkan rasa
kepedulian dan gotong royong antar sesama manusia. Apabila cara sederhana ini terus
dilakukan seiring dengan mengurangi budaya konsumtif, maka limbah fashion akan
teratasi sedikit demi sedikit.
