Jumat, 09 April 2021

Kesehatan Mental Dalam Pendidikan di Indonesia

Isu kesehatan mental merupakan salah satu isu dewasa ini yang tidak habis diperbincangkan di berbagai platform media massa. Masalah ini disebut-sebut sebagai salah satu dampak dari modernisasi yang membawa kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus menimbulkan berbagai masalah psikologis dan sosial. Namun, jika dilihat dari kacamata pendidikan, isu ini masih termasuk isu yang baru. Mayoritas masyarakat memisahkan antara kesehatan mental dan pendidikan formal seolah-olah keduanya tidak memiliki kaitan sama sekali. Berdasarkan hasil penelitian di Amerika Serikat, 20-25% anak dan remaja mengalami masalah kesehatan mental setiap tahunnya. Masa anak-anak dan remaja adalah masa dimana individu menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang lingkup pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa sebenarnya pendidikan memiliki peran khusus dalam masalah kesehatan mental.

Sebagian besar gangguan mental dimulai pasa masa remaja dan awal masa dewasa (10 sampai dengan 24 tahun) dan kesehetan mental yang buruk berkaitan dengan hasil pendidikan, kesehatan dan sosial yang negatif (Nielsen et al., 2017; Patel, 2007). Mengapa demikian? Pendidikan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi dan alokasi. Fungsi ini menuntut institusi pendidikan mampu menanamkan dan menginternalisasikan nilai-nilai sosial dan ilmu pengetahuan pada setiap peserta didik. Fungsi utama ini seharusnya bisa sekaligus menjadi cara memperkenalkan dan memberikan informasi tentang kesehatan mental sejak dini kepada individu untuk mengatasi atau minimal mengurangi tingkat masalah kesehatan mental. Di samping itu, tak jarang institusi pendidikan tersebutlah yang justru memperburuk kesehatan mental peserta didik. Masalah kesehatan mental di lingkungan pendidikan berkaitan dengan bidang akademik, misalnya kurikulum yang tidak sesuai dan banyaknya tuntutan yang diberikan kepada peserta didik sehingga mereka merasa depresi dan tertekan. Selain itu, terdapat sebab lain, seperti pengaruh pola pergaulan dan anti sosial peserta didik.

Pengembangan kesehatan mental di lingkungan pendidikan dapat diterapkan melalui disediakannya layanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Pada tingkat SMP dan SMA misalnya, diadakan mata pelajaran Bimbingan Konseling dan adanya guru BK. Namun, di Indonesia sendiri, cara ini belum diterapkan secara efektif karena pemberian waktu mata pelajaran tersebut umumnya sangat sedikit dan hanya membahas seputar motivasi belajar, cara belajar dan lain-lain yang selalu berkaitan dengan belajar. Padahal, pada dasarnya BK seharusnya menjadi agen promosi kesehatan mental sekaligus wadah bagi peserta didik yang ingin menceritakan masalahnya. Belum lagi ditambah fakta bahwa sebagian besar guru BK tidak berlatar belakang pendidikan yang sesuai sehingga mereka hanya menyampaikan materi seadanya. Dibanding memaksakan seseorang yang tidak ahli di bidangnya, alangkah lebih baik jika insitusi pendidikan bekerja sama dengan institusi lain, seperti rumah sakit, klinik atau psikolog yang terkait.

Minimnya pendidikan kesehatan mental dalam pendidikan Indonesia mempengaruhi kehidupan sosial di masyarakat. Mayoritas masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran yang tinggi tentang kesehatan mental sehingga mereka seringkali menyepelekan masalah ini. Hal ini dapat dilihat ketika ada individu yang memiliki masalah mental menceritakan masalahnya kepada publik atau speak up, tetapi malah mendapatkan respon yang negatif atau bahkan dicap sebagai “pencari perhatian”. Pendidikan tentang kesehatan mental ini juga perlu diberikan kepada masyarakat secara luas, terutama orang tua. Mengingat banyaknya anak yang mencoba speak up kepada orang tuanya, tetapi orang tua mereka tidak paham dan menganggapnya seperti “angin lalu” saja. Respon yang seperti ini kemudian membuat penderita masalah mental semakin tertekan dan memicu adanya tindakan bunuh diri.

Melalui paparan di atas terlihat bahwa pendidikan dan kesehatan mental memiliki keterkaitan satu sama lain. Untuk itu, institusi pendidikan seharusnya memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental dengan memberikan pemahaman terkait kepada peserta didiknya. Hal ini dapat dilakukan melalui pembenahan kurikulum, pemaksimalan kinerja BK dan sosialisasi kesehatan mental di sekolah-sekolah. Peran pendidikan sangat penting mengingat institusi ini dijadikan sebagai tempat pemberian bekal kepada individu sekaligus sebuah jalan menuju kemajuan masyarakat dan negara. Selain itu, masyarakat juga harus bekerja sama dengan mau menerima dan mempelajari pentingnya kesehatan mental serta mengubah kebiasaan yang dapat menyakiti psikis orang lain, seperti berkomentar negatif. Apabila keduanya diterapkan dengan maksimal, maka selain mengurangi angka masalah kesehatan mental, tetapi juga meningkatkan dan mengembangkan mutu pendidikan di Indonesia.

 

Penulisan ini berdasarkan referensi:

Ifdil. (2018). Mengembangkan Kesehatan Mental di Lingkungan Keluarga dan Sekolah. Journal of Innovative Counseling : Theory, Practice & Research, 2(2), 1–9. http://journal.umtas.ac.id/index.php/innovative_counseling

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kesehatan Mental Dalam Pendidikan di Indonesia

Isu kesehatan mental merupakan salah satu isu dewasa ini yang tidak habis diperbincangkan di berbagai platform media massa. Masalah ini dise...