Isu
kesehatan mental merupakan salah satu isu dewasa ini yang tidak habis
diperbincangkan di berbagai platform media massa. Masalah ini disebut-sebut
sebagai salah satu dampak dari modernisasi yang membawa kemajuan dalam bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi sekaligus menimbulkan berbagai masalah psikologis dan
sosial. Namun, jika dilihat dari kacamata pendidikan, isu ini masih termasuk
isu yang baru. Mayoritas masyarakat memisahkan antara kesehatan mental dan
pendidikan formal seolah-olah keduanya tidak memiliki kaitan sama sekali. Berdasarkan
hasil penelitian di Amerika Serikat, 20-25% anak dan remaja mengalami masalah
kesehatan mental setiap tahunnya. Masa anak-anak dan remaja adalah masa dimana
individu menghabiskan sebagian besar waktunya di ruang lingkup pendidikan. Hal ini
menunjukkan bahwa sebenarnya pendidikan memiliki peran khusus dalam masalah
kesehatan mental.
Sebagian
besar gangguan mental dimulai pasa masa remaja dan awal masa dewasa (10 sampai
dengan 24 tahun) dan kesehetan mental yang buruk berkaitan dengan hasil
pendidikan, kesehatan dan sosial yang negatif (Nielsen et al., 2017; Patel,
2007). Mengapa demikian? Pendidikan memiliki fungsi utama berupa sosialisasi
dan alokasi. Fungsi ini menuntut institusi pendidikan mampu menanamkan dan
menginternalisasikan nilai-nilai sosial dan ilmu pengetahuan pada setiap
peserta didik. Fungsi utama ini seharusnya bisa sekaligus menjadi cara memperkenalkan
dan memberikan informasi tentang kesehatan mental sejak dini kepada individu
untuk mengatasi atau minimal mengurangi tingkat masalah kesehatan mental. Di samping
itu, tak jarang institusi pendidikan tersebutlah yang justru memperburuk
kesehatan mental peserta didik. Masalah kesehatan mental di lingkungan
pendidikan berkaitan dengan bidang akademik, misalnya kurikulum yang tidak
sesuai dan banyaknya tuntutan yang diberikan kepada peserta didik sehingga
mereka merasa depresi dan tertekan. Selain itu, terdapat sebab lain, seperti pengaruh
pola pergaulan dan anti sosial peserta didik.
Pengembangan
kesehatan mental di lingkungan pendidikan dapat diterapkan melalui
disediakannya layanan bimbingan dan konseling terhadap peserta didik. Pada tingkat
SMP dan SMA misalnya, diadakan mata pelajaran Bimbingan Konseling dan adanya
guru BK. Namun, di Indonesia sendiri, cara ini belum diterapkan secara efektif
karena pemberian waktu mata pelajaran tersebut umumnya sangat sedikit dan hanya
membahas seputar motivasi belajar, cara belajar dan lain-lain yang selalu
berkaitan dengan belajar. Padahal, pada dasarnya BK seharusnya menjadi agen
promosi kesehatan mental sekaligus wadah bagi peserta didik yang ingin
menceritakan masalahnya. Belum lagi ditambah fakta bahwa sebagian besar guru BK
tidak berlatar belakang pendidikan yang sesuai sehingga mereka hanya menyampaikan
materi seadanya. Dibanding memaksakan seseorang yang tidak ahli di bidangnya, alangkah
lebih baik jika insitusi pendidikan bekerja sama dengan institusi lain, seperti
rumah sakit, klinik atau psikolog yang terkait.
Minimnya
pendidikan kesehatan mental dalam pendidikan Indonesia mempengaruhi kehidupan
sosial di masyarakat. Mayoritas masyarakat Indonesia belum memiliki kesadaran
yang tinggi tentang kesehatan mental sehingga mereka seringkali menyepelekan
masalah ini. Hal ini dapat dilihat ketika ada individu yang memiliki masalah
mental menceritakan masalahnya kepada publik atau speak up, tetapi malah
mendapatkan respon yang negatif atau bahkan dicap sebagai “pencari perhatian”. Pendidikan
tentang kesehatan mental ini juga perlu diberikan kepada masyarakat secara luas,
terutama orang tua. Mengingat banyaknya anak yang mencoba speak up
kepada orang tuanya, tetapi orang tua mereka tidak paham dan menganggapnya seperti
“angin lalu” saja. Respon yang seperti ini kemudian membuat penderita masalah
mental semakin tertekan dan memicu adanya tindakan bunuh diri.
Melalui
paparan di atas terlihat bahwa pendidikan dan kesehatan mental memiliki
keterkaitan satu sama lain. Untuk itu, institusi pendidikan seharusnya
memberikan perhatian lebih terhadap kesehatan mental dengan memberikan
pemahaman terkait kepada peserta didiknya. Hal ini dapat dilakukan melalui
pembenahan kurikulum, pemaksimalan kinerja BK dan sosialisasi kesehatan mental
di sekolah-sekolah. Peran pendidikan sangat penting mengingat institusi ini
dijadikan sebagai tempat pemberian bekal kepada individu sekaligus sebuah jalan
menuju kemajuan masyarakat dan negara. Selain itu, masyarakat juga harus
bekerja sama dengan mau menerima dan mempelajari pentingnya kesehatan mental
serta mengubah kebiasaan yang dapat menyakiti psikis orang lain, seperti
berkomentar negatif. Apabila keduanya diterapkan dengan maksimal, maka selain
mengurangi angka masalah kesehatan mental, tetapi juga meningkatkan dan mengembangkan
mutu pendidikan di Indonesia.
Penulisan
ini berdasarkan referensi:
Ifdil. (2018). Mengembangkan Kesehatan Mental di Lingkungan Keluarga dan Sekolah. Journal of Innovative Counseling : Theory, Practice & Research, 2(2), 1–9. http://journal.umtas.ac.id/index.php/innovative_counseling
